Monday, August 01, 2005

perasaan sang keong

Di pantai yang luas dan bersih, ada seekor keong kecil. Keong itu selalu sembunyi di dalam pasir. Mengawasi keadaan sekitar. Selama ini, dia tidak berani keluar dari rumahnya. Rumahnya yang aman dan nyaman.
Tapi suatu hari, dia memberanikan diri keluar dari rumahnya. Dia ingin tahu, apa yang ada di dunia ini. Dan seberapa luas, pantai yang didiaminya. Ternyata sangat menyenangkan. Dia tahu banyak hal. Mulai dari pasir yang putih, angin yang berhembus semilir, kepiting merah, kerang yang berserakkan dan lain-lain. Dia jadi bertekad untuk tahu banyak hal. Hal yang selama ini selalu dia pendam, selalu disembunyikan dan selalu ditahan padahal dia ingin sekali tahu semua itu.
Tibalah pada suatu waktu, dia berjalan-jalan ke tempat yang asing. Dengan berharap, bisa mengetahui hal lain, dia melihatnya. Melihat burung hantu yang bertengger di pohon niur. Dia tidak mengerti, apa yang dilakukan burung hantu itu di sana. Tapi burung itu, terus mengawasinya.
Perasaan galau dan gelisah melanda sang keong. Dia takut akan dimakan. Sehingga dengan cepat, dia kembali ke rumah sekuat tenaga.
Esok harinya, di malam yang dingin dan sepi, keong itu melihatnya lagi. Burung hantu yang kemarin. Burung hantu itu terus mengawasinya dengan matanya yang tajam. Sang keong takut, dan kembali lagi ke rumah.
Selama beberapa waktu, keong itu melakukan hal sama. Tapi, kecemasannya tidak berasalan. Sang burung hantu itu, hanya mengawasi dan terus memperhatikan dengan seksama. Malah suatu waktu, dia ber-uhu-uhu nyaring menyambut kedatangannya.
Sang keong pun tidak takut lagi dengan burung hantu itu. Malah dia senang melihat bahkan mendengar suaranya yang merdu. Yang membuatnya tenang dan nyaman. Sang keong pun, selalu menunggu malam tiba, untuk dapat melihat burung hantu itu. Entah sejak kapan, sang keong merasakan suatu keharusan untuk bertemu dengan sang burung hantu. Bahkan kalau dia tidak bisa keluar rumah, dia sudah sangat senang hanya dengan mendengar suaranya yang merdu.
Sang burung hantu pun tidak menuntut macam-macam. Meski dia ingin, agar sang keong juga ikut bernyanyi. Tapi karena sifat sang keong yang tertutup, dia tidak memaksanya. Dia terus saja sabar, menemani malam sang keong kecil.
Tapi suatu waktu, sang burung tidak ada. Tentu saja sang keong merasa bingung dan heran. Apa gerangan yang terjadi dengan sang burung hantu? Apa dia sakit? Apa dia kena musibah? Tapi meski ada 1001 pertanyaan di kepala sang keong, sang keong tidak berani mengucapkannya. Dia sendiri juga bingung. Jangan-jangan, burung hantu itu tidak muncul lagi, karena sang keong membuat kesalahan. Oleh sebab itu, sang keong tetap diam menyimpan perasaannya sendiri.
Bahkan, sang burung hantu tidak memberinya selamat di hari penobatan sebagai keong yang terpilih, memakai gelar bangsawan laut. Penobatan yang diberikan oleh penguasa laut, kepada keong kecil itu. Sehari menjelang penobatan, sang keong sangat gelisah. Dia membutuhkan sekali kehadian sang burung hantu. Tapi burung hantu itu tetap tidak datang. Keong itu ketakutan, tapi tidak ada yang mendengarnya. Keong itu tidak meminta apa pun. Dia hanya meminta kehadiran dan suara merdu sang burung, untuk menguatkan hati dan memberinya dukungan.
Yang diinginkan oleh sang keong, hanyalah ungkapan : “Jangan takut, ada aku. Aku akan selalu melindungimu. Tenanglah, semua pasti baik-baik saja.”
Sang keong berpikir, pasti sang burung hantu akan datang di hari penobatan. Tapi sampai acara penobatan selesai dan pagi pun tiba, dia tetap tidak datang. Batang hidungnya pun, tidak kelihatan sama sekali.
Jangan tanya bagaimana perasaan sang keong. Dia sangat sedih. Amat sangat sedih. Apalagi dia mengalami hari yang menakutkan. Meski dia diberi mahkota. Selama sisa hari, dia terus berharap dan terus berharap. Menatap ke pohon yang sering ditempatinya.
Menangiskah sang keong? Jelas. Dia menangis. Tapi dia tidak mau seorang pun melihatnya menangis. Tangisnya sangat deras. Bagai hujan lebat di tengah laut.
Dia kemudian berpikir, dia sendirian lagi. Ketika dia mulai bisa menerima kehadiran makhluk lain, dia ditinggal sendiri. Seperti dulu. Selalu sendiri.
Tapi apa boleh buat? Sang burung hantu sudah tidak memperdulikannya lagi. Bahkan satu nada saja tidak terdengar. Padahal biasanya, hampir setiap hari, sang burung selalu bernyanyi untuknya.
Dia harus menerimanya. Dia tidak boleh lagi, tergantung dengan sang burung hantu. Meski dia sadar, rasanya sangat sulit sekali. Tapi dia harus mencoba. Dia akan mencoba sekuat tenang, sampai air matanya kering.
Sudah tiba saatnya, dia kembali lagi ke rumahnya. Ke rumahnya yang sepi, yang dulu membuatnya nyaman. Tapi sekarang sudah tidak nyaman lagi. Itu semua karena sang burung hantu.
Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia selalu berharap, sang burung hantu akan kembali. Tapi yah, semua itu tergantung dengan sang burung. Dia tidak bisa memaksanya.
Jadi, apakah sang burung hantu akan kembali mengawasinya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

2 Comments:

Blogger si kiwir said...

Waks, bagus banget euy ceritanya.
Elu suka bikin cerpen ya? (short stories and such?)

11:02 AM  
Blogger anjar said...

I think I know what you mean...

Am I already lost

4:25 AM  

Post a Comment

<< Home