Thursday, July 28, 2005

perjumpaan dan perpisahan.

Setiap perjumpaan ada perpisahan. tidak ada yang abadi. Sejak dulu, setiap kali kita berjumpa seseorang, pasti kita akan berpisah dengannya. Berulang kali aku merasakannya. Padahal bersama mereka adalah saat yang menyenangkan. Tapi lagi-lagi harus berpisah. Sebab setiap orang punya tujuan hidup sendiri-sendiri.
Tapi alangkah bahagianya, jika bisa terus bersama-sama selamanya. Namun, meski kita berpisah dengan teman-teman, akan ada teman baru yang menunggu. Kita akan berjumpa dengannya, dan akan juga berpisah. Seperti lingkaran setan yang nggak ada habisnya.
Cuma, perpisahan selalu menorehkan rasa sakit dan pilu di dada. Bahkan terkadang, rasanya nggak mau pisah. Karena sudah saking dekatnya. Tapi meski begitu, perpisahan tetap terjadi.
Tapi kalau mau berusaha, kita masih bisa saling berhubungan dengan mereka. Hanya saja, tidak semuanya utuh seperti sedia kala. Ada yang di laut, di gunung, di ujung dunia, di mana-mana. Komunikasi menjadi penting untuk saling berhubungan. Tapi meski ada komunikasi, jika tidak ada keinginan dari masing-masing orang untuk menjalin hubungan, semua itu sia-sia.
Itulah yang kualami. Aku selalu berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat denganku. Sahabat sejak SD, entah ada dimana. Sama sekali tidak ada kabarnya sekarang. Sudah menikah kah? Sudah mempunyai anak kah? Bekerjakah? Di Jakarta kah? Atau dimana? Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Memang, dulu-dulu pas baru berpisah, masih ada kabar berita. Meski cuma selentingan kabar. Tapi sekarang, sama sekali tidak kedengaran. Seolah dia tidak pernah hadir di muka bumi.
Bukan hanya sahabat, tapi teman-teman yang lain. Semuanya menghilang satu persatu. Berpencar setelah berkumpul. Persis seperti bola naganya Dragon Ball. Kalo sudah memanggil Dewa Naga, bola-bola itu akan berpisah. Dan bisa bersama lagi, jika ada yang mengumpulkannya.
Sahabat SMP pun, tidak tahu ada di mana. Apa aku yang salah? Pas baru masuk SMA, masih berhubungan. Tapi lama kelamaan, dia tidak pernah lagi menghubungi. Padahal aku berusaha untuk mengenang lagi kebersamaan kita. Tapi tidak ada tanggapan.
Yang di SMA juga sama. Dia pergi ke mana. Tak pernah mau menghubungiku. Padahal aku berusaha untuk menghubunginya. Hanya basa basi yang sangat basi, setiap kali berbincang di telepon. Tapi lebih dari itu, tidak ada kelanjutannya. Malah harus aku yang menghubunginya. Dan dia tidak mau menghubungiku. Apa yang salah sama diriku? Apa? Padahal aku sungguh menyayanginya. Tapi dia terkesan sudah tidak perduli. Bahkan tidak mau perduli. Karena sikapnya itu, aku tidak mau lagi menghubunginya. Karena aku berpikir, aku sudah kasih umpan, tapi dia tetap tidak mau mengambilnya. Jadi buat apa melakukan hal yang percuma?
Di kampus, tidak ada yang benar-benar menjadi sahabat. Aku dekat dengan mereka semua. Jadi kalo berpisah, tidak akan terasa sangat sakit. Tapi kami tetap berhubungan. Atau karena kami baru saja berpisah, jadi masih kayak biasa. Tapi bagaimana dengan tahun depan? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Apa mereka akan melupakanku? Apa aku akan melupakan mereka? Apa kami masih berhubungan? Atau sudah tidak lagi seperti yang sudah-sudah?
Tapi tidak semua sahabatku pergi menjauh. Ada Anjar, sahabat cowokku sejak SMA kelas 3. Sampai sekarang, dia masih berhubungan denganku. Dia pun sering ngasih manga dan anime. Ada juga temen deket yang lain —yang tidak bisa kusebutkan satu persatu. Yang masih berhubungan denganku. Meski memang tidak terlalu sering.
Dan sekarang, aku memiliki teman. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu, dia itu kategorinya teman atau apa? Atau sahabat? Yang jelas, tidak mungkin pacar.
Dia sangat sabar dan pengertian. Dia baik sekali padaku. Terlalu amat baik dan juga perhatian. Padahal aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan dekat dengannya. Tapi suatu hari, aku mengatakan padanya rahasiaku. Rahasia yang selalu kupupuk dan kusimpan rapat-rapat. Dan sejak itulah, aku mulai berhubungan dengannya.
Dia tidak pernah marah pada sifatku yang plin-plan dan angin-anginan. Dengan sabar, selalu mendengarkan. Tidak pernah memaksa, meski kadang sering juga kelepasan.
Apa aku juga akan berpisah dengannya? Berpisah dengan sabahat-sabahat yang betul-betul ku sayang? Aku tidak tahu. Tapi pasti, suatu saat kita pasti berpisah. Sebab seperti yang sudah-sudah, TIDAK ADA YANG ABADI.

Yana, Tika, Sandra? Where are u????

0 Comments:

Post a Comment

<< Home