Monday, July 11, 2005

Aku lari...

Di awal tahun yang indah, aku memulai sesuatu yang baru. Yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku pergi ke tempat di mana, banyak sekali orang yang berbeda sekali dari dunia ku. Dunia yang biasa dan mewarnai hari dengan hal biasa pula.
Di bawah sinar matahari pagi, aku menuju ke tempat baru itu. Bersama seorang kawan, yang juga mau tahu. Ternyata, banyak sekali orang-orang yang sepertiku. Memiliki impian dan keinginan yang sama. Rasanya sangat menyenangkan.
Di pertemuan itulah, aku melihatnya. Seekor anjing yang menatap teduh dan duduk tegak berwibawa. Mula-mula, aku tidak tidak memperdulikannya. Buat apa? Sama sekali tidak menarik.
Sepulang dari pertemuan itu, aku pindah. Memindahkan semua yang ada bersamaku. Betapa kagetnya aku melihat anjing itu lagi. Sedang menunggui sebuah rumah. Rumah sederhana yang di sekitarnya banyak suara kicauan burung, auman singa, lolongan serigala dan nyanyian alam lainnya.
Ketika melihatku, anjing itu hanya menatap lurus dan mengikuti bayanganku yang lewat di depannya begitu saja. Tapi karena seringnya aku lewat di depannya, dia mulai menggonggong. Pelan tapi mantap.
Aku menoleh ke arah anjing yang sedang duduk di teras rumah. Ku tersenyum tapi aku tidak begitu mengacuhkannya. Aku pun melanjutkan langkahku.
Kali berikutnya, dia menggonggong lagi melihat kehadiranku. Dan begitu seterusnya. Karena sudah merasa akrab, aku pun tersenyum dan berhenti berjalan. Tidak meninggalkannya, tapi malah menatapnya lurus.
Kubuka dengan perlahan-lahan, pagar yang membuat batas di antara kami. Kudekati dengan ragu-ragu, lalu mulai jongkok di hadapannya. Perlahan tapi pasti, kuelus kepalanya. Dia mendengkur nyaman, dan tersungging senyum di bibir tipisku.
Sejak saat itu, setiap kali aku melihat anjing itu, aku sempatkan untuk menemaninya meski sebentar supaya dia tidak kesepian. Kadang malah, aku membawakan makanan untuknya.
Aku jadi senang dan merindukan saat-saat untuk bertemunya Meski belakangan ini aku jarang lewat di depannya dan jarang pula mampir untuk menemani, tapi dia tetap ingat padaku. Meski begitu, anjing itu pun mulai dekat padaku. Malah amat sangat dekat.
Aku tidak keberatan dan senang-senang saja meski anjing itu sudah punya majikan.Aku pun tidak ambil pusing. Karena aku dekat dengan anjing itu, seperti halnya aku dekat dengan makhluk lain.
Tapi lama kelamaan, anjing itu tidak lagi duduk manis diteras rumah. Dia mulai melangkah. Aku tidak tahu kenapa. Anjing itu tidak mau membiarkanku pergi.
Dia maju selangkah, tapi aku mundur selangkah. Dia maju 2 langkah, aku pun langsung mundur 2 langkah dan begitu seterusnya. Dia menggonggong keras-keras berharap aku jangan pergi. Tapi aku tidak bisa terus menemaninya. Aku harus pulang, ke rumahku.
Tapi dia tetap mengikuti. Dia terus mengikuti. Dengan langkah kecil, dia mengikuti aku pergi. Aku semakin gelisah dan panik. Dia terus saja menggonggong sambil mengikuti aku berlari.
Begitu sampai di depan gerbang, langsung kubanting gerbang hitam itu dan kukunci cepat. Aku tidak memperbolehkannya masuk. Dia pun mengeluarkan gonggongan protes. Tapi aku tidak perduli.
Aku tidak ingin dia masuk ke rumahku. Aku tidak mau dia mendekati pekaranganku. Bukan karena aku takut padanya. Bukan karena aku membencinya. Bukan karena aku tidak percaya padanya. Tapi karena, aku tidak mau ada makhluk apa pun masuk ke dalam rumahku.
Ini adalah rumahku. Pekaranganku. Milikku. Aku tidak mau berbagi dengan siapa pun. Dan apa pun. Tidak ada yang boleh masuk. Sebab di rumah inilah aku merasa nyaman dan tenang. Aku merasa terlindungi dan aman.
Kulirik anjing itu yang menatapku sendu. Aku tidak perduli. Ini sudah keputusanku. Aku tidak akan membiarkanmu masuk.
Dia membalik tubuhnya. Aku kira dia mau pulang ke rumah asalnya. Tapi tidak. Dia malah duduk manis di depan gerbang.
Tatapan matanya yang lurus dan yakin, membuatku terenyuh. Tapi aku tetap diam. Rupanya dengan sabar, dia menungguku. Menungguku membuka pintu gerbang supaya dia masuk.
Aku tidak memperdulikannya. Dengan langkah ringan, tanpa ada perasaan bersalah, aku masuk ke dalam rumah. Dan istirahat. Mengistirahatkan jiwa dan raga seperti yang sudah-sudah.
Karena penasaran dan kasihan, kuintip anjing itu dari jendela. Dia masih setia menunggu dengan kesabaran tidak batas. Aku merasa iba sekaligus terharu. Tapi hatiku sudah terlanjur jadi batu. Betapa sabarnya dia menunggu dan betapa keras usahanya untuk masuk, aku tetap tidak akan membukakan pintu.
Sebab sebenarnya aku juga sedang menunggu. Menunggu kekasihku yang sedang pergi jauh ke seberang lautan. Hanya kepada dirinyalah aku akan menyerahkan kunci. Kunci gerbang dan rumahku.
Dan untuk menghargai temanku yang berkaki empat itu, aku pun keluar. Kutatap matanya yang bersinar-sinar gembira melihatku lagi. Ku sunggingkan senyum ke arahnya.
Selama beberapa saat, aku terus menatapnya dari dalam pekarangan. Dia terus menyalak keras minta dibukakan pintu. Tapi aku tetap mematung.
“Pulanglah!”
Dia menyalak keras memprotes perintahku.
“Jangan mengikutiku terus. Jangan mendekatiku. Biarkan aku saja yang mendekatimu.”
Seolah bisa merasakan perasaanku, anjing itu bangkit dan berlalu pergi. Sebelum pergi dia menoleh dan menyalak lembut.
Aku pun tersenyum sambil berucap, “Terima kasih.”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home