Tuesday, June 28, 2005

AyaM TiRen....????

Tiren. Apa itu tiren? Apa itu tiren? Tiren adalah singkatan dari Mati Kemaren. Belakangan ini, kata Tiren digabungkan dengan kata yang lain. Gabungan itu adalah ‘Ayam Tiren’.
Apa itu ayam tiren? Mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa artinya atau mungkin tahu maknanya, tapi tidak pernah mendengar ungkapan ini. Ayam tiren berarti ayam bangkai. Lalu apa? Kenapa dengan ayam bangkai itu?
Sebenarnya tidak ada apa-apa. Hanya saja, ayam tiren ini dijual oleh sebagian orang. Dijual? Untuk apa? Untuk dimasak dan tanpa sadar kita konsumsi. Mengerikan bukan?
Tapi bukankah setiap ayam yang dijual memang sudah mati atau dengan bahasa kasarnya, menjadi bangkai? Memang benar, ayam yang dijual di pasaran sudah mati. Tapi sebelum dijual, ayam itu masih hidup dan sehat baru dipotong. Ada perbedaan besar antara ayam tiren dengan ayam biasa. Yaitu, sebelum dijual dan dipotong pun, ayam tiren itu sudah mati dan menjadi bangkai.
Jadi tanpa sadar, kita bisa memakan bangkai ayam. Dimana ayam yang sudah mati itu, kemungkinan mati karena sakit. Bayangkan saja, kita memakan daging yang penuh penyakit. Rasanya tidak bisa dibayangkan.
Tapi memangnya kenapa dengan memakan ayam bangkai? Bukankah ikan pun bangkai? Memang ada kesamaan diantara keduanya. Sama-sama bangkai. Tetapi, ikan yang dijual dipasar memang sudah mati ketika ditangkap oleh nelayan. Meski masih ada yang hidup. Tapi kemungkinan besar, ikan yang ditangkap itu langsung mati. Sebab ikan tidak bisa bertahan hidup jika tidak ada air.
Bukan berarti, ikan pun tidak bermasalah meski sudah menjadi bangkai. Ikan pun bisa menularkan penyakit. Ada penyakit yang menyerang hewan-hewan yang hidup di laut. Contohnya penyakit Minamata yang diakibatkan oleh Mercury.
Kembali ke masalah ayam tiren. Meski saat ini, saya belum tahu apa yang akan terjadi dengan kesehatan kita jika mengkomsumsi ayam tiren. Tapi coba anda bayangkan saja sendiri. Memakan bangkai? Memikirkannya saja membuat mual dan merinding. Dalam agama Islam, ayam yang akan kita konsumsi ataupun binatang lain —dengan pengecualian ikan dan hewan air— harus dipotong menggunakan basmallah. Oleh sebab itu ada label halal dari MUI.
Tapi terlepas dari soal halal atau tidaknya, memakan bangkai, sangatlah mengerikan. Rasanya seperti burung Kalazar di Afrika yang memakan bangkai binatang yang tergeletak di padang rumput. Terlalu mengerikan meski hanya membayangkannya saja.
Lalu kenapa, ayam bangkai itu bisa dijual? Sebagai masyarat awam, kita tidak tahu apakah itu ayam tiren atau bukan —di sini saya sebut sebagai ayam biasa. Dan dengan bebasnya, membelinya kemudian mengkonsumsinya. Alasan yang dikemukan oleh para penjual ataupun pembeli ayam tiren itu adalah alasan klasik. Yaitu Ekonomi.
Kenapa alasan ekonomi? Sebab ayam tiren itu jauh lebih murah dari harga ayam biasa. Harga ayam biasa dipasaran —untuk saat tulisan ini dibuat— sekitar 15 ribu untuk 1 kilo. Dan satu ayam itu, bisa lebih atau kurang dari 1 kilo. Sedangkan harga ayam tiren, dijual per potongnya —tanpa melihat ukurannya— hanya 2 ribu rupiah. Murah bukan? Terlalu amat sangat murah untuk ukuran seekor ayam. Bahkan ikan saja, jarang yang harganya segitu. Paling hanya untuk ikan tertentu.
Karena harga yang murah itulah, banyak orang tergoda untuk membelinya. Bagi masyarakat bawah ataupun masyarakat menengah, harga ayam yang murah menjadi pilihan. Mereka tidak mungkin curiga kenapa harganya semurah itu dari yang biasa. Apalagi di jaman yang serba mahal ini, tanpa pikir panjang mereka pasti akan membelinya.
Karena hal itulah, ada penjual ayam tiren. Jika ayam tiren itu dibeli, maka akan ada yang menjual. Tapi siapa si penjual ayam tiren?
Penjualnya tak lain dan tak bukan, yaitu pegawai di pemotongan ayam. Wow, mengerikan sekali. Pegawai pemotongan itu, mengumpulkan ayam yang mati karena sakit ataupun sebab yang lain, dan menjualnya ke pedagang. Pedagang inilah yang kemudian tanpa merasa bersalah, menjualnya ke masyarakat.
Lalu, apa masyarakat kita tidak sadar dengan ayam tiren itu? Sebagian besar TIDAK SADAR. Ketikdaksadaran itu dikarenakan, masih banyak yang tidak begitu paham soal ayam. Oleh karena itu, mereka bisa salah memilih ayam bangkai.
Selain bisa terjebak dalam membeli ayam di pasar, orang pun bisa terjebak dalam memilih makanan. Sebab pedagang makanan pun, kadang ada yang menggunakan ayam tiren untuk dihidangkan ke pelanggan.
Bukannya menakut-nakuti, tapi inilah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Tentunya kita tidak mau, memakan ayam bangkai yang bisa saja merusak kesehatan kita.
Bayangkan saja, ayam itu masuk ke mulut, kita kunyah, masuk ke lambung, ke urus 12 jari, ke usus halus untuk diserap sarinya baru ke usus besar. Sari yang ada di ayam itu, akan dibawa darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Tentunya kita tidak ingin sari pati itu menyatu dengan tubuh kita.
Oleh karena itu, tulisan ini dibuat. Sebagai peringatan dan pemberitahuan agar kita semua berhati-hati dalam memilih makanan. Makanan itu bukan hanya murah, enak dan banyak, tapi juga harus sehat dan bergizi. Sebab makanan itu akan menyatu dengan tubuh kita,
SELAMA-LAMANYA.
Tulisan ini hanya perkenalan saja mengenai ayan tiren. Dalam tulisan selanjutnya, akan saya beri tahukan tanda-tanda atau ciri-ciri ayam tiren. Selain itu, saya akan berbagi tips memilih ayam yang baik dan menghindari ayam tiren. Meski pun bahaya yang mengancam dari ayam itu, bukan cuma berasal dari ayam tiren, tapi dari ayam yang diberi formalin dan boraks.
Baiklah, sampai di sini dulu tulisan saya. Sampai jumpa ditulisan selanjutnya.
Salam.


ALiran SeSet?? Kok Bisa....

Aliran sesat. Dari katanya saja kita sudah bisa menduga, apa yang terkandung di dalam 2 kata tersebut. Dalam kamus Bahasa Indonesia, aliran merujuk pada barang yang mengalir yang biasanya berhubungan dengan air. Sedangkan sesat, diterjemahkan sebagai salah jalan. Terlepas dari terjemahan kata dalam kamus besar Bahasa Indonesia, aliran sesat kalau diartikan secara bebas yaitu suatu paham atau pun keyakinan yang melenceng dari peraturan suatu agama tertentu. Yang biasanya, aliran sesat itu mengajarkan kepada pengikutnya hal-hal yang buruk atau pun tidak sesuai dengan salah satu ketentuan yang dianut suatu agama tertentu.
Kenapa belakangan ini, di Indonesia aliran sesat itu marak dan tumbuh subur seperti jamur di musim hujan? Apakah karena masyarakat kita yang terlalu gampang percaya atau mungkin imannya tidak kuat? Atau ada sebab lain? Tidak jelas, apa penyebabnya kenapa aliran sesat seperti itu tumbuh subur. Tapi yang jelas, sekarang ini marak sekali pemberitaan di media yang membahas mengenai aliran sesat tersebut.
Sebenarnya, bagaimana suatu keyakinan atau pun tindakan bisa dikatakan sebagai aliran sesat? Secara garis besar, aliran sesat itu mengajarkan ajaran yang menyimpang. Aliran sesat yang sedang marak belakangan ini yaitu, aliran sesat yang melakukan penyimpangan terhadap agama Islam. Contoh penyimpangan terhadap ajaran agama Islam yaitu terjadi di Lombok Barat. Salah satu pemimpin aliran sesat mengaku sebagai ‘Tuhan’ dan wali, sehingga dengan dalih itu dia bisa menggauli santrinya sendiri dengan seizing suami. Sang santri tersebut diiming-imingi akan menjadi bidadari dan hal tersebut dilakukan semata-mata untuk ibadah.
Siapa pun yang mendengar perintah ibadah itu, pasti akan mengeryitkan dahi dan merasa bahwa ada yang tidak beres dalam perintah ibadah itu. Dalam ajaran mana pun, tidak dibenarkan untuk melakukan perbuatan intim tanpa suatu ikatan yang resmi dan dengan pasangan yang resmi. Seharusnya, para santri tersebut ataupun orang terdekat mereka —dalam kasus ini sang suami—, dapat mencium adanya udang dibalik batu. Tapi kenapa mereka tidak protes ataupun mengatakan ‘TIDAK’?
Salah satu penyebabnya, karena rendahnya pemahaman mengenai ajaran yang dianut, dalam hal ini agama Islam. Selain itu, mungkin para santri itu terlalu gampang percaya dan dibodohi. Apa yang menyebabkan mereka seperti itu? Yang menjadi faktor utama adalah intelegensia yang rendah sehingga mereka gampang percaya pada mulut berbisa sang pemimpin. Tidak usah mendengar ajarannya, jika kita mendengar ada orang yang mengaku-aku sebagai ‘Tuhan’, pastinya kita menganggap orang itu gila atau pun jiwanya terganggu.
Para santri itu ibaratnya, orang kelaparan yang membutuhkan makanan. Tapi sang dermawan yang datang memberi makan, membawa makanan basi. Mau tidak mau, orang yang kelaparan itu akan memakannya tanpa curiga apalagi sang dermawan itu mengatakan kalau makanan basi itu banyak gizinya.
Selain kasus di Lombok itu, masih banyak lagi aliran sesat yang lain. Mungkin yang paling fenomenal dan yang sangat terkenal, adalah kasus shalat menggunakan Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Muhammad Roy pengasuh Pondok I'tiqap Ngaji Lelaku asal Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jatim. Kenapa ajaran Roy dianggap sesat? Sebab dia mengajarkan shalat yang tidak sesuai seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Mungkin selama ini banyak pendapat yang mempertanyakan, kenapa harus pakai Ba0hasa Arab? Sebab agama Islam turun di sana. Kalau mungkin, Islam turun di Indonesia, pastinya saat ini kita akan shalat menggunakan bahasa Sansekerta, itu juga kalau turun di daerah Jawa. Jadi apa yang sudah berlangsung selama ini dan diyakini benar, berusaha dilanggar —atau dimodifikasi— oleh Roy.
Selain itu, masih banyak lagi aliran sesat yang lain. Meski demikian, seperti ada suatu benang merah atau kesamaan antara satu aliran dengan yang lain. Benang merah itu adalah pelecehan seksual yang dialami para wanita yang mengikuti ajaran itu. Kasusnya seperti contoh yang ada di Lombok. Bahkan bukan hanya sang pemimpin, asistan sang pemimpin juga melakukan hal yang sama kepada para wanita yang ikut ajaran tersebut.
Lalu, apakah ada bedanya antara para pemimpin ajaran sesat itu dengan dukun cabul? Tidak ada. Mereka sama-sama berdalih dan bermulut manis, untuk memangsa korbannya. Tapi, kenapa juga masih banyak orang-orang yang ikut ajaran itu dan khususnya para wanita yang menjadi korban? Apakah mereka tidak tahu, mana yang salah dan mana yang benar? Apakah faktor intelegensia saja yang membuat mereka bisa dengan mudahnya masuk ke mulut buaya?
Kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena mereka sangat percaya kepada orang yang mereka kagumi dan junjung tinggi. Bahkan para santri wanita yang ada di Lombok menutup rapat aib dan juga kelakukan sang pimpinan. Hal itu semata-mata karena mereka percaya sepenuhnya.
Pada kasus pelecehan yang lain, meski memang akhirnya terungkap mengenai kebejatan moral sang pemimpin, tapi hal itu sudah terlambat sebab sudah banyak wanita yang menjadi korbannya. Para wanita itu banyak yang memendam apa yang telah terjadi pada mereka. Mungkin karena malu karena sudah berhasil kena tipu daya atau mungkin karena ancaman dari sang pelaku.
Tapi dari serentetan kasus aliran sesat itu, ada satu hal positif yang bisa kita ambil. Yaitu kepercayaan yang kuat kepada hal yang kita percayai. Mungkin memang, para santri di Lombok itu percaya pada hal yang salah —tapi benar menurut mereka. Namun, kepercayaan mereka pada sang pemimpin yang tidak tergoyahkan dan itu dibuktikan dengan sikap diam mereka, sangatlah mengagumkan.
Kepercayaan yang besar seperti itu, jaman sekarang sudah sangat langka. Sebab sekarang jamannya individualistis dimana kepercayaan yang diberikan, disia-siakan dan dikhianati. Contohnya saja kasus Korupsi. Dan sebaiknya, kita memiliki perasaan itu juga. Percaya pada sesuatu dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan kepada diri kita.
Tapi dengan catatan: Percaya pada hal yang hakekatnya benar. Dengan kata lain, percaya pada apa yang memang harus kita percayai sebab hal itu memang sunguh-sungguh benar.

SiNeTroN??

Sinetron.
Kalo aku denger kata ini, aku pasti bakal langsung kepikiran, cerita di TV yang nggak pernah ada habisnya. Kenapa bisa kepikiran kayak gitu? Yah,…emang kayak gitu kebanyakan sinetron yang diputer di stasiun-stasiun TV. Sebenernya aku salut sama penulis skenarionya. Dia bisaaaaa aja nyambung-nyambungin dan bikin konflik yang nggak ada habisnya. Yang nggak mungkin dimungkin-mungkinin dan yang nggak ada diada-adain. Hebat bener deh. Apa nggak bosen ya??? Emang nggak ada ide lain yang kepikir di kepala, dan bisa terus gitu garap satu judul dengan konflik yang nggak bakal selese??? Kalo aku sih, baru nulis 1 ide atau tema, yang lain udah kepikiran dan pengennya cepet-cepet nyelesain (Apa sih??). Pokoknya salut deh sama mereka.
Lagian juga, konfliknya yang dibikin paling soal —sejauh yang kulihat ya— perebutan warisan atau pun segala sesuatu yang berhubungan ama duitlah, terus yang paling sering yaitu soal cinta segitiga. Yang mana yang jadi peran antagonisnya pengen ngerebut si tokoh utama ce/co dengan melakukan segala cara —aku juga ngelakuin hal itu kok di “Kacamata Kuda”, tapi yah beda dari yang lain deh ^_^ —.
Aku bukan orang yang anti sama sinetron —aku pernah liat blog yang nulis kalo dia anti sinetron, tapi belum sempet kebaca ^_^; — soalnya aku juga nonton sinetron —kebujuk juga sih ^0^—. Contohnya aja Ada Apa dengan Cinta. Pertama-tama nonton tuh, tapi lama kelamaan udah nggak lagi soalnya ceritanya ngebosenin —maaf ya mas/mbak yang nulis skenarionya— dan gampang ditebak konfliknya, itu lagi itu lagi. Tapi, belakangan ini aku nonton lagi soalnya konfliknya kembali ke tokoh utamanya.
Well, meski emang konfliknya biasa aja, tapi kenapa ya kok aku nonton?? Tahu deh, mungkin karena penasaran. Terus ada lagi, Kawin gantung. Nggak tahu deh sekarang masih ada apa enggak. Dulu aku selalu ngikutin, tapi konfliknya jadi aneh dan nge-BT in jadinya ya nggak nonton lagi.
Selain AADC ama Kawin Gantung, dulu aku nonton Dara Manisku. Aku suka aja ama konfliknya dan selalu nonton, tapi udah lama banget aku nggak nonton. Kata temenku, ceritanya jadi ngawur nggak jelas gitu. Aku ampe heran sendiri dan cuma bisa mengernyit. Kenapa jadi gitu sih?? Apa karena cuma pengen dipanjang-panjangin doang?? Tapi jadi nggak jelas dan nggak masuk akal banget —maaf ya kakaknya Lisa ^_^;.
Ngomongin soal masuk akal, banyak banget sekarang sinetron yang bener-bener nggak masuk akal. Contohnya soal peri, bidadari dan hal-hal yang berbau gaib. Ok deh, ada sebagian orang yang suka sama hal itu. Aku juga termasuk orang yang percaya dengan hal seperti itu. Cuma ya, aneh aja gitu. Kesannya kok, manusia nggak punya kemampuan apa-apa buat nyelesain masalahnya sendiri tanpa bantuan sang peri or something like that. Jadinya mereka bergantung dengan makhluk2 itu.
Mungkin karena lagi musim berperi-peri ria ya??? Kalo dulu, genrenya tentang tangis2an dan tokoh utama yang disiksa banget dengan segala cara baik fisik ataupun mental, terus ke soal kembar2an, peri2an, terus sekarang yang kulihat sih, lagi genre yang hal-hal gaib berhubungan sama agama gitu. Contohnya taubat, insyaf dll. Yah terserah lah, toh aku nggak suka nonton sih ^_^ kalo ceritanya nggak bener-bener bagus dan lain dari yang lain. Mungkin yang menurutku bagus itu. Meski aku gak rutin nonton dan kadang-kadang doang
BTT ke masalah yang sinetron. Aku sih kepengennya, banyak sinetron yang bagus yang ceritanya lain daripada yang lain —mungkin yang menurutku ceritanya lain seperti Perkawinan Sedarah ama Malin Kundang, meski aku nontonnya gak rutin. Bukan yang episodenya banyak, kayak ‘Tersanjung’ yang nggak tahu udah ampe 6 atau 7 atau mungkin lebih?? Banyak sinetron ≠ banyak episode. Itu kan bisa jadi variasi dan nggak nge-BT in. Pasti banyak yang mau nonton judul2 baru.
Yah,..semoga aja sih.

Tuesday, June 14, 2005

1st time

HEM,........ini pertama kalinya publishin apa yang udah dibikin. Biasanya sih, cuma bikin blog tapi nggak pernah diisi. Sekarang musti, kudu, wajib diisi. karena ada desakan dari berbagai pihak,...(Apa sih? jayus banget ya..maapin deh ^-^ ). Ini aja bikinnya di tempat Fany, si expert soal blog (hohohohoho).
Yah...pokoknya bakal ada isinya deh..entah apa....
cup..cup.. muuuaaaahhhhhhh